Beranda Wawasan 5 Fakta Simpang Lima Gumul yang Tidak Banyak Diketahui

5 Fakta Simpang Lima Gumul yang Tidak Banyak Diketahui

0
BERBAGI

Monumen Simpang Lima Gumul atau biasa disingkat SLG bisa dibilang sudah menjadi ikon Kabupaten Kediri. Monumen megah yang dibangun sejak tahun 2003 dan diresmikan tahun 2008 ini memiliki peranan penting bagi transportasi dan urat nadi perekonomian masyarakat.

Meskipun saat ini kawasan SLG sudah sangat terkenal namun bangunan yang terletak di Desa Tugurejo Kecamatan Ngasem Kediri ini masih menyimpan informasi yang tidak banyak diketahui publik. Redaksi wiranews[dot]com merangkum sedikitnya 5 fakta tentang SLG yyang belum banyak diketahui publik.

#1. Awal mula SLG adalah perempatan kecil

Area monumen Simpang Lima Gumul (SLG) Kediri
Area monumen Simpang Lima Gumul (SLG) Kediri

Dari segi transportasi, SLG telah sukses memainkan peran penting sebagai jalur utama menuju 5 kawasan di Kabupaten Kediri. Kelima daerah tersebut yakni Kecamatan Pare, Plosoklaten, Wates, Gampengrejo dan Pagu. Seluruh kendaraan yang hendak menuju 5 kawasan tersebut diarahkan memutar monumen menyesuaikan tujuan tanpa perlu menggunakan traffic light.

Namun jauh sebelum SLG dibangun, lokasi tersebut hanyalah perempatan kecil plus satu jalan setapak. Jalur utamanya adalah jalan dari Gampengrejo menuju Pare lalu bercabang ke Wates dan Plosoklaten. Tepat di perempatan terdapat traffic light untuk mengatur lalu lintas. Jalur yang menuju Kecamatan pagu baru berupa jalan setapak yang jarang dilalui pengendara.

#2. Dimensi bangunan melambangkan hari jadi Kabupaten Kediri

Monumen Simpang Lima Gumul (SLG) Kediri
Monumen Simpang Lima Gumul (SLG) Kediri

Keseluruhan kawasan SLG memiliki luas sekitar 37 hektar yang terdiri dari beberapa bangunan seperti perkantoran, tempat rekreasi dan perbankan. Khusus bangunan monumen memiliki luas 804 meter persegi dengan tinggi 25 meter. Bangunan monumen juga disangga 3 tangga setinggi 3 meter untuk menuju area utama monumen. Angka-angka tersebut ternyata merupakan lambang dari hari jadi Kabupaten Kediri yakni pada 25 Maret 804 Masehi.

#3. Relief Monumen terinspirasi Jongko Joyoboyo

Sudah bukan rahasia bentuk monumen SLG menyerupai Arc de Triomphe di Prancis. Jika Arc de Triomphe dibangun untuk menghormati para pejuang yang bertempur dan mati bagi Perancis dalam Revolusi Perancis, pembangunan monumen SLG ternyata terinspirasi dari kisah kepahlawanan Jongko Joyoboyo. Pada masa Kerajaan Kediri abad ke-12, Joyoboyo memiliki tekat menyatukan 5 kawasan di sekitar Kediri.

#4. Ada 3 terowongan untuk menuju monumen

Lorong menuju monumen Simpang Lima Gumul (SLG) Kediri
Lorong menuju monumen Simpang Lima Gumul (SLG) Kediri

Bagi warga Kediri yang sudah biasa berkunjung di kawasan SLG bisa dengan mudah menemukan jalan menuju bangunan monumen. Namun bagi pengunjung yang baru pertama kali datang ada kemungkinan menemui kesulitan. Untuk menuju lokasi monumen telah disediakan 3 terowongan bawah tanah yang berada di bawah jalan lingkar SLG. Terowongan tersebut terhubung dari area parkir. Pada hari biasa, hanya satu area parkir yang dibuka yakni berada di kiri jalan dari arah Gampengrejo menuju Pagu. Pengunjung dilarang memarkir kendaraan di sepanjang lingkar monumen karena bisa mengganggu lalu lintas.

#5. Terdapat banyak ruang di dalam monumen

Ruang dalam monumen Simpang Lima Gumul (SLG) Kediri
Ruang dalam monumen Simpang Lima Gumul (SLG) Kediri

Bila di sisi luar monumen terdapat relief–relief yang menggambarkan tentang sejarah Kediri, di dalam monumen terdapat beberapa ruangan 6 lantai yang bisa dimanfaatkan berbagai kegiatan. Yakni ruang utama dan auditorium yang beratap mirip kubah, ruang serba guna di basement, dan diorama di lantai paling atas. Untuk menuju antar ruangan disediakan lift dan tangga manual.(*)

Sumber foto: kedirikab[dot]go[dot]id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here