Beranda Wisata Batal Jadi Penulis, Pilih Jadi Editor

Batal Jadi Penulis, Pilih Jadi Editor

0
BERBAGI

Septiana Wulansari, Editor Cerita Fiksi

Kediri, Menjadi penulis adalah cita-cita Septiana Wulansari sejak dia masih duduk di bangku sekolah dasar.  Awalnya, karena dia suka membaca novel Lima Sekawan karangan Enid Blyton.  Selanjutnya cita-cita itu semakin menguat setelah dia mengikuti lomba menulis cerpen, dan dia mendapatkan juara pertama di usianya yang saat itu masih 10 tahun.  “Setelah itu saya jadi semakin terpacu untuk mengikuti lomba menulis.  Tidak selalu menang, tapi saya kemampuan saya menulis fiksi menjadi semakin terasah,” ujar Septi, warga asli Burengan Kota Kediri yang sekarang tinggal di Jakarta.

Kendati memiliki potensi yang besar untuk menjadi penulis fiksi, namun pada akhirnya Septi tidak pernah menjadi penulis.  Dia merasa imajinasinya kurang liar untuk menjadi seorang penulis yang mumpuni.  Tapi di sisi lain, dia tahu betul kekuatan yang dia miliki di bidang sastra.  Pertama, ketelitiannya dalam menuliskan EYD.  Waktu kuliah, dia mendapatkan predikat sebagai Miss Perfect EYD karena dalam makalah, esai, hingga skripsinya, para dosen hampir tidak pernah menemukan kesalahan huruf, tanda baca, maupun aturan-aturan lain dalam EYD.

Kedua, kemampuannya dalam memilih diksi (pilihan kata).  Menurut dosen-dosennya dulu, Septi ini pintar membuat kalimat sederhana menjadi lebih asyik dibaca karena diksi yang dipilihnya.  “Kata dosen saya dulu, saya pintar menggubah suatu kalimat menjadi kalimat lain namun dengan makna yang sama.  Tapi kalau suruh ngarang sendiri, atau kalau cerita, membuat plot sendiri yang menarik, saya kurang jago.  Makanya saya mundur jadi penulis,” kata Septi.

Batal jadi penulis, apa yang sekarang Septi kerjakan?  Mengandalkan dua kemampuannya tersebut, Septi kini menjadi seorang editor cerita fiksi di sebuah perusahaan penerbitan besar di Indonesia.  “Tak percaya diri jadi penulis, saya coba jadi melamar jadi editor, karena saya memang tidak bisa jauh-jauh dari buku dan sastra.  Syukurlah saya diterima dan sudah jalan dua tahun,” ujar wanita berusia 25 tahun ini.

Septi mengatakan, sebagai seorang editor buku yang selalu berharap buku yang telah susah payah dia edit laku di pasaran, dia berharap toko buku di Indonesia bisa terus berinovasi agar tetap bisa memutar roda ekonomi.  Tidak seperti kebanyakan toko kaset yang terpaksa gulung tikar karena berjualan kaset saat ini bukan lagi prioritas utama pegiat industri musik.  Kebanyakan lebih memilih untuk mencoba peruntungan dengan menjual produknya di gerai ayam waralaba.

Karena itu dia setuju ketika melihat toko buku tak lagi ngeyel hanya menjual buku.  Hal tersebut berarti mereka sadar bahwa hasil dari berjualan buku di zaman serba digital sekarang,  tidak akan mampu menutup biaya operasional.   Untuk itu, toko buku akhirnya mulai menjual alat tulis, alat musik, bahkan alat olahraga.  “Itu adalah upaya agar toko buku bisa menghidupi diri mereka dan tetap buka.  Karena tidak menutup kemungkinan, beberapa tahun lagi, buku-buku pun juga akan dijual secara digital seperti halnya musik.  Kalau sudah begitu, saya tidak bisa membayangkan bila suatu hari nanti kita terpaksa membeli buku yang dijual sepaket dengan ayam goring,” kata Septi. (ela)

 

 

Sumber : koranmemo.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here