Beranda feature Batuk di Shalat Ied

Batuk di Shalat Ied

0
BERBAGI

shalat iedFeature – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengumumkan 1 Syawal 1438 tahun 2017 ini tepat pada hari Minggu 25 Juli. Pada hari itu seluruh umat muslim di Indonesia merayakan hari kemenangan setelah 29 hari menjalankan ibadah puasa Ramadan. Pada hari itu juga, usai menjalankan shalat subuh semua umat muslim menjalani ibadah shalat idul fitri.

Sudah menjadi rutinitas setiap tahunnya umat muslim akan mendatangi tempat-tempat yang sudah ditentukan untuk menjalani ibadah shalat Sunnah Muakad ini. Bukan hanya Masjid yang penuh dengan masyarakat yang berpakaian rapi dan wangi, sejumlah tanah lapangpun juga penuh dengan orang yang beribadah, tidak terkecuali Masjid di kampung saya.

Sekitar pukul 06.00 Wib, saya bersama keluarga menuju masjid kampung. Gema takbir terus berkumandang hingga sang muadzin berdiri untuk memberi intruksi menjalankan shalat ied.

Setelah semua berdiri Imam memulai dengan takbir pertama, awalnya berjalan baik-baik saja hingga takbir ke lima. Salah seorang disamping saya mulai mengeluarkan suara batuk “uhuk-uhuk” ternyata suara ini berurutan. Mulai dari suara batuk disamping sebelah kanan saya, terus belakang saya, terus sampingnya dan hingga takbir ke tujuh di rokaat pertama suara batuk itu sudah menjalar ke hampir semua jamaah shalat ied. Konsentrasi saya pun terganggu, karena banyak memikirkan tentang bagaimana satu orang batuk bisa menjalar ke orang-orang disekelilingnya hingga hukumnya batuk itu membatalkan shalat atau tidak.

Kajian Kesehatan

Menurut Robert Provine psikolog dari University of Marryland kuman yang dikeluarkan dari batuk bisa saja menular ke orang lain. Tapi, penularan itu tidak harus lewat kuman, karena bisa saja batuk menular bagitu saja hanya karena melihat orang lain batuk.

“Manusia sebenarnya bukan makhluk rasional. Kita menguap saat orang lain menguap, tertawa saat orang lain tertawa dan juga batuk saat orang lain batuk,” katanya seperti dikutip dari MSNBC.

Mekanisme penularan batuk ini, menurut Provine, sama seperti ketika orang ikut-ikutan menguap karena sama-sama mengantuk atau tertawa saat orang disekitarnya ikut tertawa. Kecenderungan untuk meniru ini dinilainya sebagai perilaku yang sangat alamiah.

Kajian Hukum Agama

Imam Nawawi dalam Al-Majmuk, hlm. 4/10, menyatakan:

وأما التنحنح فحاصل المنقول فيه ثلاثة أوجه: الصحيح الذي قطع به المصنف والأكثرون: إن بان منه حرفان بطلت صلاته، وإلا فلا. (والثاني): لا تبطل – وإن بان منه حرفان، قال الرافعي: وحكي هذا عن نص الشافعي. (والثالث): إن كان فمه مطبقاً لم تبطل مطلقاً وإلا فإن بان حرفان بطلت وإلا فلا. وبهذا قطع المتولي وحيث أبطلنا بالتنحنح فهو إن كان مختاراً بلا حاجة، فإن كان مغلوباً لم تبطل قطعاً، ولو تعذرت قراءة الفاتحة إلا بالتنحنح فيتنحنح ولا يضره، لأنه معذور، وإن أمكنته القراءة وتعذر الجهر إلا بالتنحنح فليس بعذر على أصح الوجهين، لأنه ليس بواجب

Artinya: Dalam masalah mendehem ada tiga pendapat (dalam madzhab Syafi’i): Pertama, pendapat yang sahih yang diputuskan oleh Syairazi (penulis Al-Muhadzab) dan kebanyakan ulama Syafi’iyah adalah: Apabila mengandung dua huruf maka batal shalatnya, apabila tidak sampai dua huruf, tidak batal. Kedua, tidak batal walaupun mengandung dua huruf. Imam Rafi’i berkata: ini berdasarkan dari teks Imam Syafi’i. Ketiga, apabila mulutnya tertutup maka tidak batal secara mutlak, apabila tidak tertutup maka dirinci apabila mengandung dua huruf batal, apabila tidak maka tidak batal. Ini pendapat Al-Mutawalli. Pendapat yang membatalkan berdehem itu adalah apabila dalam keadaan normal tanpa adanya kebutuhan untuk melakukan itu. Apabila ia terpaksa harus melakukannya maka tidak batal sama sekali. Apabila tidak bisa membaca Al-Fatihah kecuali dengan berdeham terlebih dahulu maka ia boleh melakukan itu dan tidak membatalkan shalat karena udzur. Apabila ia dapat membaca Al-Fatihah tapi tidak bisa membaca dengan keras kecuali dengan berdehem terlebih dahulu maka itu tidak termasuk udzur menurut salah satu pendapat yang paling sahih karena bersuara keras itu tidak wajib.

Sedangkan yang membatalkan shalat itu diantaranya, kentut/kencing, terkena najis, berkata secara sengaja, terbuka auratnya, mengubah niat, makan dan minum, bergerak berturut-turut, membelakangi kiblat, menambah rukun, tertawa, mendahului Imam, dan keluar dari Islam.

sumber : dari berbagai sumber

Penulis : Zayyin M

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here