Beranda Kesehatan Freeletics Kediri, Komunitas Cari Keringat Bersama

Freeletics Kediri, Komunitas Cari Keringat Bersama

0
BERBAGI

Tiap Ketemu Lahap Satu Jam ‘Menu’ Latihan

Kediri Bebas Obesitas dan Kediri Sehat adalah dua motto yang dimiliki oleh Freeletics, satu komunitas pencari keringat yang ada di Kota Kediri. Tak perlu keluar biaya mahal untuk nge-gym hanya mengandalkan anggota tubuh sendiri dan selembar tikar, mereka sudah bisa hidup sehat. Syukur-syukur kalau bisa membentuk otot dan menurunkan berat badan.

Suasana di Memorial Park yang terletak di depan Taman Makam Pahlawan (TMP) Kota Kediri, Rabu (4/1) malam lalu berbeda dari malam-malam sebelumnya. Memang, sejak dibuka untuk umum, taman tersebut nyaris tidak pernah sepi pengunjung. Namun Rabu malam kemarin berbeda. Tepat di tengah-tengahnya, ada sekitar 15 orang, masing-masing memegang selembar tikar kecil. Mereka asyik mengobrol sampai salah seorang di antara mereka mengajak untuk memulai kegiatan mereka malam itu.

Segera, kelimabelas orang tersebut menggelar tikar yang mereka pegang berjajar-jajar. Kemudian, salah satu menulis di whiteboard ‘menu’ mereka hari itu. Ternyata, yang dimaksud dengan ‘menu’ oleh mereka bukan makanan, tapi gerakan apa saja yang akan mereka kerjakan sekaligus jumlahnya. Misalnya, jumping jack, gerakan melompat sambil melambaikan kedua tangan ke atas dan ke bawah sebanyak 40 kali. Setelah itu dilanjutkan burpees, yakni gerakan berantai mulai dari posisi push up, jongkok, berdiri, jongkok, kemudian push up lagi sebanyak 10 kali.“Ini baru gerakan pemanasan. Kalau makanan istilahnya appetizer. Menu utamanya masih belum,” ujar Abdul Hakim, salah seorang peserta di sana, sekaligus perintis adanya Freeletics diKota Kediri.

Tigapuluh menit berjalan, para anggota Freeletics sudah ngos-ngosan. Keringat sudah mengucur deras dari dahi masing-masing anggota. Padahal, bagi yang melihat tanpa praktik, gerakan-gerakan mereka terlihat sederhana dan tidak membutuhkan tenaga. “Gerakannya memang kelihatan sepele. Tapi kalau dilakukan secara berulang kali ya lumayan bikin gobyos,” kata Hakim, sapaan akrab berusia 24 tahun tersebut.

Tapi gobyos bersama memang tujuan dari dibentuknya Freeletics ini. Daripada cari keringat sendiri di rumah, Hakim dan Agung Mustaqim, dua perintis Freeletics Kediri ingin mengajak warga Kediri untuk cari keringat bersama. “Menambah dulur, juga makin sehat. Lebih enak sehat bersama kan daripada sehat sendiri-sendiri,” tutur Hakim.

Satu jam lamanya mereka menyelesaikan menu yang tersedia sebelum akhirnya menggulung tikar mereka masing-masing dan bersantai. Setiap kali pertemuan, Freeleetics memang menjatah maksimal hanya satu jam. Kalau lebih dari satu jam, bukannya sehat, bisa-bisa malah pingsan. “Gerakan-gerakan freeletics tidak bisa dianggap remeh lho,” katanya.

Sambil beristirahat, Hakim dan Agung menceritakan tentang awal berdirinya Freeletics. Ternyata, mereka berdua sama-sama anggota Freeletics di kota perantauan mereka dulu. Hakim di Surabaya, sedangkan Agung di Yogyakarta. Ketika mereka kembali ke Kediri, mereka merindukan masa-masa olaharga bersama seperti saat mereka masih di Freeletics. Akhirnya, mereka dipertemukan oleh Nafisa Ibrahim, salah satu anggota Kediri Runner, dan tercetuslah ide membentuk Freeletics Kediri. Tepat 8 Maret 2016, Freeletics Kediri terbentuk.

Selama tahun 2016, baik Hakim maupun Agung tidak memiliki target apa-apa. Mereka hanya ingin mengumpulkan lebih banyak anggota untuk bergabung dalam Freeletics. Dalam setahun, Freeletics berhasil mengumpulkan sebanyak 40 anggota dan menjalankan latihan rutin sebanyak dua kali dalam seminggu, yakni hari Rabu malam dan Sabtu sore. “Meskipun yang aktif datang hanya separuhnya, tapi menurut saya sudah cukup memuaskan kok. Apalagi Freeletics ini tergolong sebagai komunitas baru,” ujar Hakim.

Sebenarnya, selain mencari keringat dan sehat bersama, jika dilakukan dengan benar dan rutin, Freeletics ini memiliki banyak manfaat. Satu yang paling utama, menurut Hakim adalah menurunkan berat badan dan membentuk tubuh. Sampai saat ini di Kediri memang masih belum ada yang menunjukkan hasil seperti itu. Namun di kota-kota besar, seperti di Surabaya dan Yogyakarta, sudah banyak yang merasakan manfaat dari Freeletics. “Contohnya saja saya. Saya bisa mengontrol berat badan sejak bergabung dengan Freeletics,” kata pria yang berdomisili di Kelurahan Jamsaren ini.

Untuk itu, di tahun 2017 ini Hakim dan Agung berharap, paling tidak ada dua anggota yang bisa menunjukkan hasil setelah bergabung dengan Freeletics. Mungkin bisa dengan berat badan yang turun atau berhasil membentuk otot mereka. “Banyak sih yang punya target seperti itu. Tapi sayangnya habis latihan langsung yang dicari soto, terus makan rame-rame. Kapan kurusnya?” ujar Hakim sambil tertawa. (della cahaya)

sumber : koranmemo.com

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here