Beranda Tak Berkategori Kenduri 5.000 Layah Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW

Kenduri 5.000 Layah Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW

0
BERBAGI

Walikota Mas’ud : Tradisi ini menanamkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, tanah air dan kecintaan kepada Kota Mojokerto

Mojokerto, Pemerintah Kota Mojokerto memang memiliki cara tersendiri ketika memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW pada 12 Rabiul Awal 1438 Hijriyah. Jika kebanyakan di daerah lain memperingati dengan kenduri di musala dan masjid,  di hari kelahiran Nabi Umat Islam itu Pemkot menggelar kenduri dengan mengumpulkan 5.000 tumpeng layah, Senin (12/12). Tradisi ini sengaja dilestarikan untuk memupuk kebersamaan diantara warga Kota Onde-onde.

“Acara ini kami kemas dalam suasana kebersamaan. melibatkan TNI, Polri, Birokrasi, dan masyarakat untuk kami ajak bersama-sama memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW,” kata Walikota Mojokerto, Mas’ud Yunus kepada wartawan.

Tradisi ini terbukti sukses membangun kebersamaan masyarakat di tengah berbagai guncangan yang menerpa persatuan bangsa saat ini. Ribuan warga dari berbagai lapisan masyarakat berkumpul di Lapangan Raden Wijaya, Kelurahan Surodinawan, Kecamatan Prajurit Kulon untuk kenduri bersama.

fj-kenduri-2“Sekarang yang sudah terkumpul hampir 6.000 tumpeng layah. Ini partisipasi masyarakat setiap RT, SKPD (satuan kerja perangkat daerah), dan kepala sekolah se – Kota Mojokerto,” ujar Mas’ud.

Tak ayal, pagi kemarin lapangan sepak bola itu banjir manusia. Nuansa oranye mewarnai seisi lapangan lantaran warga kompak memakai seragam batik khas Kota Mojokerto dan kaus bertuliskan I Love Mojokerto Service City.

Usai salawat dan doa dikumandangkan, secara serempak warga menyantap tumpeng dengan wadah layah yang mereka bawa dari rumah. Suasana guyup, rukun begitu kental dalam tradisi ini. Tanpa terhalang status sosial, mereka bersama menikmati tumpeng dengan aneka lauk dan sayur.

“Tradisi ini terus kami lestarikan untuk menanamkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, kecintaan kepada tanah air dan kecintaan kepada Kota Mojokerto,” terang Mas’ud.

Menurut Mas’ud, layah dipilih karena sudah menjadi tradisi turun-temurun masyarakat Kota Mojokerto untuk wadah kenduri. Tempat makan dari tanah liat yang ukurannya lebih besar dari cobek biasa itu kini kian langka karena tergusur perabot dari bahan plastik.

“Layah itu budaya lokal. Setiap peringatan Maulid Nabi masyarakat memakai layah. Sementara itu pengusaha layah lokal saat ini kalah bersaing dengan plastik. Saya ingin setiap tahun memberikan dukungan kepada para pengusaha layah agar omzet penjualan mereka ikut naik,” tandasnya.

Tak hanya kenduri 5.000 layah, tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW ini juga diwarnai rebutan gunungan Onde-onde dan aneka kue basah. Dua gunungan besar berisi 10.000 kue khas Kota Mojokerto itu ludes diserbu warga hanya dalam hitungan menit.

Tradisi kenduri massal ini terbukti membuat masyarakat merasa senang. Meski menyantap menu sederhana, mereka mengaku merasakan kenikmatan tersendiri dengan makan bersama.

Pengakuan ini datang salah satu peserta, yaitu Atib Sholihin (50), warga Kelurahan Gedongan, Kecamatan Magersari.  Meski sudah tiga kali mengikuti tradisi ini, dia mengaku ketagihan dengan acara makan bersama itu.

“Saya datang bersama tetangga, membawa 30 tumpeng layah. Saya senang dengan tradisi ini karena bisa merasakan keguyupan dengan sesama umat Islam,” cetusnya. (adv/hms/ag)

Sumber : koranmemo.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here