Beranda feature Monumen Kapal Majapahit di Pusat Kota

Monumen Kapal Majapahit di Pusat Kota

0
BERBAGI

Ingatkan Warisan Bahari Nenek Moyang

Kota Mojokerto bukanlah daerah pesisir pantai yang identik dengan kehidupan bahari. Namun demikian, sejak Maret 2016 lalu ada pemandangan tak biasa di simpang empat Miji Kecamatan Kranggan Kota Mojokerto. Di sudut timur Jalan Majapahit itu, terdapat sebuah monumen kapal. Lalu apa maksud dari monumen itu?

“Itu monumen Kapal Majapahit,” kata Djuhhari Witjaksono (87) ditemui wartawan di rumahnya Jalan Brawijaya No 302 Kota Mojokerto, Sabtu (24/12). Djuhhari sendiri merupakan perajin miniatur perahu tradisional yang menggagas sekaligus membuat monumen Kapal Majapahit tersebut.

Sejak tahun 1990, dia juga menjadikan rumahnya sebagai galeri sekaligus bengkel membuat kerajinan miniatur perahu. “Saya ingin menunjukkan bahwa di Mojokerto ini muncul seni budaya zaman Majapahit dan mengangkat kemaritiman Majapahit bahwa nenek moyang kita adalah orang bahari,” ujar kakek lima cucu ini.

Sembari menunjukkan karya miniatur perahu di rumahnya, Djuhhari mengisahkan proses pembuatan monumen Kapal Majapahit yang tak mudah. Berawal dari keprihatinan melihat kondisi taman di simpang empat Miji yang hanya dihiasi kolam dan air mancur, suami almarhum Siti Sa’adah ini mengajukan usulan pembuatan monumen kapal ke Wali Kota Abdul Gani yang memimpin Kota Mojokerto era tahun 2003-2013. “Saat itu saya punya ide bagaimana kalau diberi miniatur perahu sesuai Mojokerto yang dulunya Kerajaan Majapahit. Tapi saat itu tak diterima. Ganti Wali Kota Mas’ud Yunus, saya usulkan kembali, baru diterima,” ungkapnya.

Pertengahan tahun 2015, Djuhhari pun mulai merakit monumen Kapal Majapahit. Dibantu empat orang tukang las, lulusan Sekolah Teknik Menengah (STM) di Malang tahun 1957 ini membutuhkan waktu dua bulan untuk menuntaskan pekerjaannya. Tepat 17 Agustus 2015, miniatur kapal 2,5 meter x 0,6 meter dengan tinggi sekitar 1,5 meter itu selesai. “Saya buat dari bahan besi baja, beratnya sekitar tiga kuintal. Biaya kurang lebih Rp 60 juta,” terangnya.

Baru pada Kamis (3/3), monumen Kapal Majapahit karya Djuhhari diresmikan oleh Wali Kota Mojokerto. “Kalau masyarakat sudah melihat miniatur ini, harapan saya bisa memberikan suatu pemikiran bahwa seperti ini peradaban Majapahit, bentuknya perahu seperti ini. Biar masyarakat sadar bahwa kita ini anak turun bangsa bahari,” cetusnya.

Djuhhari juga menjadikan model perahu tradisional Majapahit sebagai produk souvenir. Ia menamai model tersebut sebagai salah satu bentuk perahu layar zaman Kerajaan Majapahit. “Jenisnya perahu penjaga pantai. Sudah saya patenkan tahun 1999,” tuturnya.

Untuk membuat model tersebut, penelitian cukup panjang pun dia lakukan, mulai di dalam negeri hingga ke Belanda. Dalam penelitiannya di tanah air, Djuhhari hanya mendapatkan referensi dari relief perahu di Candi Penataran di Kabupaten Blitar dan di Candi Borobudur di Kabupaten Magelang. Dia pun menjadikan relief tersebut sebagai acuan menyusul minimnya sumber sejarah di Indonesia. “Candi Borobudur dari wangsa Syailendra abad ke – 8, Majapahit abad ke – 11, tapi masih satu pulau, Jawa. Dalam pikiran saya saat itu, jelas budaya dan sebagainya (wangsa Syailendra) berimbas ke Majapahit. Saya memberanikan diri menggabung kedua relief tersebut menjadi model miniatur salah satu bentuk perahu layar zaman Majapahit,” ungkapnya.

Untuk menyempurnakan model Kapal Majapahit itu, pada tahun 1995 Djuhhari melanjutkan riset ke Belanda. Bermodal dana riset dari sebuah perusahaan di Jatim, kakek lima cucu ini menghabiskan waktu delapan hari di Museum Bahari Amsterdam Belanda. “Di Museum Bahari Amsterdam memang banyak model perahu kuno, itu menambah inspirasi kreasi saya, termasuk di Kapal Majapahit. Ada hal-hal aneh yang justru menjadi identitas, misalnya layar melengkung, ada cadik, ada keranjang. Keranjang fungsinya pengganti jangkar. Banyak tongkat pada perahu gunanya untuk masuk ke pelabuhan. Karena zaman dulu pelabuhan masuk muara, nah untuk menyusuri muara butuh dorongan memakai tongkat,” terangnya.

Kendati telah melakukan penelitian, Djuhhari berharap para arkeolog maupun pakar sejarah memberikan koreksi terhadap model kapal tersebut. “Model kapal Majapahit ini saya ingin sebagai pancingan. Saya memang ingin mendapatkan komplain dari para arkeolog. Kalau salah, benarnya seperti apa,” pungkasnya. (agung pamungkas)

sumber : koranmemo.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here