Saya Akan Pergi Kalau Indonesia Meminta, Kalau Malaysia yang Meminta Saya Katakan Tidak !!!

- Jurnalis

Rabu, 24 Maret 2021 - 15:19 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

WIRAnews.com, NUNUKAN “ Seorang petani di pulau Sebatik Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara secara tegas menentukan pilihannya tetap menjadi Indonesia meski sejumlah asetnya masuk Malaysia. Meski hidup dan besar di perbatasan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang penuh keterbatasan dan kekurangan, jiwa patriot yang Syarif Hidayatulloh, tidak sedikitpun goyah. Di depan Wakil Menteri (Wamen) Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional Surya Tjandra dan para pejabat Negara lain, Syarif dengan yakin mengepalkan tangan dan menyerukan NKRI harga mati. ˜’Kalau Negara kami yang inginkan kami pergi, kami akan pergi. Tapi kalau Malaysia yang usir kami, kami katakan tidak !!!,”ujarnya, saat mempertanyakan nasibnya karena sebagian tanahnya masuk wilayah Malaysia, Rabu (24/3/2021). Syarif dan puluhan masyarakat di Pulau Sebatik, diundang dalam penjaringan aspirasi pasca pengukuran ulang patok batas Negara yang dilakukan oleh Badan Informasi Geospasial (BIG) bersama Jabatan Ukur dan Pemetaan Malaysia (Jupem) pada 2019 lalu. Dalam pengukuran tersebut, ada puluhan lahan masyarakat Sebatik Utara yang masuk wilayah Malaysia, pun sebaliknya, puluhan hektar lahan Malaysia masuk Indonesia. Syarif dan puluhan masyarakat lain, menuntut kejelasan akan nasib mereka. ˜’Lahan kami sudah bersertifikat, BPN Nunukan keluarkan surat itu. Kami tidak mempertanyakan letak batas Negara, akan tetapi kami memiliki hak atas tanah kami. Bagaimana dengan itu? Apakah Negara menyediakan ganti untung atau seperti apa?,”katanya lagi. Syarif menuturkan, sejak terjadi pergeseran patok, banyak masyarakat lain menjadi korban bullying. Entah dari masyarakat sekitar ataupun dari masyarakat tetangga Malaysia. Bahkan warga Malaysia melakukan provokasi dengan cara mencoret dinding bangunan yang masuk Malaysia dengan tanda silang. Mereka mengatakan, tanah dan bangunan warga Sebatik sebentar lagi menjadi milik mereka. ˜’Mungkin tanda silang hanya sebatas coretan. Tapi bagi kami itu provokasi. Saya tegaskan selagi belum ada keputusan negara, saya tidak akan pindah. Saat ini tanah itu masih milik Negara saya, bukan milik Malaysia,”tegasnya. Indonesia “ Malaysia melakukan pengukuran ulang untuk menentukan batas Negara di segmen Sebatik pada 2019 lalu. Pengukuran dilakukan oleh Badan Informasi Geospasial (BIG) bersama Jabatan Ukur dan Pemetaan (Jupem) Malaysia. Hasil dari pengukuran tersebut, puluhan hektar tanah masyarakat Sebatik Utara Masuk Malaysia. Sebaliknya, puluhan hektar tanah Malaysia masuk wilayah Sebatik. Dari 43 warga Sebatik Utara yang mengaku kehilangan tanahnya, setelah diverifikasi ulang hanya 28 warga yang memiliki sertifikat. Dalam kunjungannya ke Nunukan, Wamen Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional Surya Tjandra mengatakan, kasus yang terjadi di pulau Sebatik baru pertama terjadi di Indonesia. Ia akan melakukan koordinasi dan berencana membentuk tim terpadu, dan diusahakan secepat mungkin karena menyangkut menjaga territorial wilayah ˜’Kita ajak Kemenlu, Kemhan dan lainnya. Ini masalah tanggung jawab bersama. Kita semua tahu, pembahasan penyelesaian perbatasan negara dibahas sejak 1980an, jadi mohon masyarakat bersabar. Akan kita bahas lagi di ranah pusat,”jawabnya. Surya mengatakan, meski kini terpasang patok patok batas Negara yang baru sebagai penanda hasil pengukuran ulang, hal itu bukan berarti membatasi aktifitas dan kegiatan warga perbatasan RI “ Malaysia. Selama MoU belum ditanda tangani oleh kedua Negara, masyarakat masih boleh menggarap sawah dan ladang mereka. ˜’Sebelum ada kejelasan batas Negara, silahkan beraktifitas seperti biasa. Yang jelas dengan pengukuran ulang di Sebatik, lahan kita bertambah 125 hektar dan kehilangan 5 hektar. Sekali lagi mohon bersabar, karena proses ini masih berjalan,”katanya. Reporter : Viq

Baca Juga :  Ratusan Warga 3 Kecamatan Demo Perusahaan Sawit, Pihak Perusahaan Belum Memberikan Kejelasan Demo Berlanjut Hingga Malam

Berita Terkait

Pj. Wali Kota Tarakan, Dr. Bustan, S.E., M.Si., Hadiri Senam Sehat dan Pemeriksaan Kesehatan dalam Peringatan HUT PWRI ke-62
Sekda Malinau Dr. Ernes Silvanus Resmi Menutup Turnamen Sepak Bola Bupati Malinau Cup 2024
KPU Malinau: Bakal Paslon Pilkada 2024 Harus Sesuaikan Visi-Misi dengan RPJPD
Pemda Malinau Dukung Penuh Survei Penilaian Integritas KPK 2024
Bupati Malinau Wempi W Mawa Hadiri Upacara Penutupan Pendidikan, Pelantikan, dan Pengambilan Sumpah Bintara Polri Gelombang I Tahun Anggaran 2024
Rincian Duit Rp 44,2 M dan USD 30 Ribu Hasil SYL Peras Anak Buah di Kementan
PSSI Perpanjang Kontrak Shin Tae-yong Hingga 2027
Pemkab Gelar LCCM, Diikuti 13 Sekolah SMP Se-Kabupaten Malinau

Berita Terkait

Sabtu, 20 Juli 2024 - 00:58 WITA

Pj. Wali Kota Tarakan, Dr. Bustan, S.E., M.Si., Hadiri Senam Sehat dan Pemeriksaan Kesehatan dalam Peringatan HUT PWRI ke-62

Sabtu, 20 Juli 2024 - 00:46 WITA

Sekda Malinau Dr. Ernes Silvanus Resmi Menutup Turnamen Sepak Bola Bupati Malinau Cup 2024

Rabu, 17 Juli 2024 - 20:34 WITA

KPU Malinau: Bakal Paslon Pilkada 2024 Harus Sesuaikan Visi-Misi dengan RPJPD

Kamis, 11 Juli 2024 - 16:14 WITA

Bupati Malinau Wempi W Mawa Hadiri Upacara Penutupan Pendidikan, Pelantikan, dan Pengambilan Sumpah Bintara Polri Gelombang I Tahun Anggaran 2024

Jumat, 28 Juni 2024 - 22:49 WITA

Rincian Duit Rp 44,2 M dan USD 30 Ribu Hasil SYL Peras Anak Buah di Kementan

Berita Terbaru

Internasional

Polisi Diserang di Paris Menjelang Olimpiade 2024

Sabtu, 20 Jul 2024 - 01:14 WITA