Bupati Malinau Buka Pelatihan Peningkatan Kapasitas Pengelolaan BUMDes

WIRAnews.com, Malinau- Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) harus mampu mengelola dan memetakan potensi-potensi desa sebagai peningkatan dan pendapatan desa. Hal itu diungkapkan Bupati Malinau Wempi W Mawa saat membuka pelatihan peningkatan kapasitas pengelolaan BUMDes berbasis aplikasi SIA di Ruang Tebenggang, Kamis (4/11/2021).
Apalagi, kata dia, di era digitalisasi ini mereka harus memiliki sumber daya manusia (SDM) yang dapat memberikan informasi kepada masyarakat.
“Penguatan SDM dalam mengelola BUMDes di bidang IT ini harus benar-benar sesuai. Bukan sekedar merekrut mencari pekerjaan saja,” tegasnya.
Setiap tahun, pemerintahan desa menyertakan modal kepada BUMDes.
“Apabila SDM tidak mampu menguasai IT dan memahami potensi desa, maka BUMDes itu tidak akan menghasilkan apa-apa,” ungkapnya.
Dia menyampaikan pengelolaan BUMDes harus bisa mendapatkan keuntungan untuk meningkatkan ekonomi di desa tersebut.
“Kalau ada yang tidak sanggup, saya tidak menyarankan, tapi setidaknya silahkan mengundurkan diri apabila tidak sanggup mengelola BUMDes berbasis IT,” jelasnya.
Namun, kata dia, apabila pengurus BUMDes mampu mengelola potensi desa dengan memanfaatkan teknologi, maka harus diberikan insentif tambahan.
“Ya, sebagai bentuk penghargaan. Tapi kalau tidak, kepala desa berkewajiban menyarankan agar pengelola BUMDes mundur,” ungkapnya.
Menurut dia, mengelola potensi desa melalui BUMDes harus betul-betul ditangani SDM yang profesional.
“Tidak sekedar berbicara sistem, tapi BUMDes juga terkoneksi dengan program-program pemerintah daerah,” tutur dia.
Dia kembali mengingatkan lima program prioritas daerah mulai RT Bersih, Rasda Plus, Desa Sarjana, Wajib Belajar Malinau Maju dan Milenial Mandiri.
“Dari lima itu, ada potensi yang bisa dijalankan di desa, yakni Milineal Mandiri,” katanya.
Dia mengatakan bagaimana anak-anak di desa dilatih sesuai potensi. Misal, Desa Kelapis yang memiliki pelabuhan barang.
“Kalau ada tongkang dan kapal bocor, maka mereka memperbaikinya, tentu di luar malinau. Kenapa itu tidak dimanfaatkan dengan melatih anak muda desa menjadi tukang las. Tapi harus menjadi tukang las di dalam air,” jelasnya.
Selanjutnya dia menyampaikan, beberapa tahun kedepan perusahaan tambang di desa-desa yang berada di Kecamatan Malinau Selatan akan berakhir tahun 2025. Karena itu, perlu dipikirkan untuk mengelola lokasi eks tambang tersebut.
“Desa harus sudah bisa memikirkan bagaimana anak-anak dilatih, misalnya kolam-kolam tambang dijadikan tempat ternak ikan atau rekreasi,” ungkapnya.
Menurut dia, pengelolaan eks tambang itu menjadi peluang yang harus dilihat oleh desa maupun BUMDes tersebut.
“Karena di lokasi itu ada perputaran uang yang bisa didorong dan bisa dioptimalkan,” katanya.
Dia mengajak pengelola BUMDes di setiap desa dapat mengantisipasi dengan memetakan potensi desa.
“Jangan sampai kedepannya ada penyelesalan. Apalagi, ibu kota negara Indonesia akan berada di Kalimantan. Jadi sejak dini BUMDes harus memetakan yang menciptakan peluang ke depan” pungkasnya kepada WIRAnews.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.